Kamis, 17 Juni 2010

Derma Seorang Sukwan

Matahari masih kedinginan rupanya, pagi sekira tepat setelah peringatan upacara bendera segumpal mega hitam menghampirinya.
Menyelinap nada yang sedikit sumbang kedalam gendang telinga, tiba-tiba suara sumbang itu nyaring memecah langit yang tenang. Bahasanya pun sedikit kurang pas disandang oleh seorang pemimpin, sambil bersandar diantara angin hujan yang sepoi menggerogoti bulu kuduk hingga mengkerut.
Sukwan mah teu meunang nungtut gajih, mun betah keneh didieu. (Red : Sukwan tidak boleh menuntut gajih, kalau masih kerasan disini.)
Dengan wajah polos dan datar sembari meneruskan mencatat absensi agak lapuk dimakan waktu.
Seorang sukwan yang baru genap satu bulan melahirkan hanya senyum kecut dan mengangguk dingin tanpa perantara.
Dia datang melewati batas dua kecamatan yang jaraknya tak kurang dari 45 menit menggunakan sepeda motor, yang diantar suami tercinta. Untung putrinya masih bayi (1bl lebih) belum mau jajan di warung atau toko kecuali orang tuanya.
Beliau sungguh bijaksana dan cinta pendidikan, datang sebelum mereka tiba pulang setelah mereka tiada, dedikasinya tidak diragukan lagi. Akan tetapi timbale balik yang sedikit agak pahang kerap menerpanya. Dermanya untuk pendidikan dikawasan penduduk dengan taraf ekonomi masih pas-pasan bahkan dikatakan lebih sering kurangnya begitu tulus.
Padahal sering lembaga berbelanja dari mulai baju seragam pegawai hingga lemari dan teranyar sebuah keyboard yang katanya bermerek. Lemari, risbang serta keyboard dan lain sebagainya bukan menggunakan uang kecil. Tapi untuk menggaji seorang karyawan sukwan tidak ada anggaran.

Tidak ada komentar: